‘LIRE LE’ LOUIS ALTHUSSER (MEMBACA LOUIS ALTHUSSER)

‘LIRE LE’ LOUIS ALTHUSSER 
(MEMBACA LOUIS ALTHUSSER) 

Oleh: M. Afif al-Ayyubi, Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam IAIN Surakarta


Apa Itu Ideologi?
Kita sering melihat orang yang mengatakan bahwa dirinya tidak berideologi, padahal tidak berideologi itu salah satu bentuk ideologi. Justru ketika seseorang tidak memiliki ideologi ia akan mengalami disoriented, tidak mempunyai tujuan, tidak mampu menghadapi kerumitan fenomena sosial-politik-ekonomi, dan tidak tahu apa yang ia sedang dan akan lakukan.

Selama ini kita takut atau mengalami phobia terhadap kata “ideologi” karena ideologi identik dengan komunisme, padahal kapitalisme juga ideologi. Ideologi artinya kumpulan ide, keyakinan yang menyeluruh, sistematis, dan mengatur tingkah laku sekelompok manusia tertentu dalam berbagai bidang kehidupan. 

Ideologi memiliki beberapa fungsi. Pertama-tama ia menjelaskan fenomena kondisi sosial-ekonomi, lalu menawarkan satu dasar untuk menilainya, setelah itu mengarahkan ke arah sosio-politik tertentu, akhirnya memberikan satu program tindakan politik.

Semua ideologi berkontestasi untuk menang dan mengalahkan ideologi lain, bahkan system ideologi dunia sosial yang besar. Manusia sebagai subyek ideologi selain ingin menemukan kebenaran, ia juga mengejar agar kebenarannya diakui orang lain. Bahkan tidak jarang cara mewujudkannya dengan mencari kelemahan-kelemahan ideologi lain. Hari ini, politik bangsa kita terpecah menjadi dua ideologi besar, Cebong-Kampret. Masing-masing mengklaim kebenaran, ingin memaksakan agar kebenarannya diterima oleh orang lain, dan sering kali dengan cara mencari kelemahan-kelemahannya kemudian menjatuhkannya dengan caci maki.

Bagaimana Sistem Ideologi Itu Terbentuk dan Mengendalikan Kita?

Bagi seorang marxis dari Perancis kelahiran Aljazair, Louis Althusser (1918-1990), ideologi merupakan representasi dari hubungan imajiner individu, bukan representasi dari dunia nyata. Ideologi tidak merefleksikan realitas, ia mendistorsinya. Kondisi real ekonomi adalah eksploitasi dan alienasi, tetapi ideologi mendistorsikan ke hal lain. Jadinya, ideologi hanya sebagai topeng, penghilang rasa sakit. Ideologi memberikan kesenangan-kesenangan semu agar kita tidak merasa ditindas dan bebas dari ketegangan, tetapi akhirnya membawa kita pada posisi semula dalam tata sosial, yaitu status quo.

Di samping Althusser adalah marxis dengan dua karyanya, Pour Marx dan Lire Le Capital, ia juga mengkritik Karl Marx. Ia mengatakan bahwa basic-structure tidak selalu memengaruhi super-structure karena setiap tataran dalam struktur memiliki masalah sendiri meskipun juga ekonomi sangat memengaruhi. Tidak selalu orang melakukan sesuatu karena uang, ada juga orang yang rela melakukan apapun demi ideologi, ada orang yang justru rela kehilangan uang demi ideologi, bahkan kehilangan nyawa deminya.

Selanjutnya Althusser dalam kritiknya terhadap Marx mengatakan bahwa proses sosial itu tidak ada yang pasti, dunia sosial itu tidak ada yang mutlak, rumusan sosial apapun sifatnya selalu temporer dan kontekstual. Tidak selalu ketika proletar-proletar ditindas, lalu sadar dan melawan, kemudian terjadi revolusi proletar untuk merebut aset-aset dan alat produksi kapitalisme, setelah itu lahir kepemimpinan diktator proletariat akhirnya tercipta egalitarianisme, masyarakat tanpa kelas, dan kesejahteraan sosial.

Kalau Marx mengatakan bahwa ideologi adalah kesadaran palsu, maka Althusser mengatakan bahwa ideologi adalah kondisi ketidaksadaran, memang tidak sadar, bukan lagi kesadaran palsu. Quotesnya yang terkenal, “Ideology has very little to do with consciousness – it is profoundly unconscious.” Ideologi sangat sedikit hubungannya dengan kesadaran – itu sangat tidak sadar.

Kalau kita merasa bahwa kita memiliki ideologi, maka sebenarnya justru ideologi yang memiliki kita. Setiap orang menginternalisasi ideologi dalam dirinya dan ideologi menjadi dasar pengambilan keputusan, pada titik ini bisa dikatakan bahwa seseorang ‘tidak sadar’ di dalam pengambilan keputusannya karena ia sudah dikuasai oleh ideologi. Kita merasa hidup yang paling baik ya begini ini, cara hidup yang benar ya cara hidupmu, orang lain belum tentu. Kalau kita sering merasa bahwa pandangan kita terhadap sesuatu itu netral, tidak berpihak, tidak condong pada ideologi tertentu, maka sebenarnya pandangan kita adalah hasil dari refleksi dari satu ideologi yang dibentuk oleh latar belakang dan kelompok sosial kita. Itu semua melalui proses ketidaksadaran.

Manusia dibentuk oleh struktur yang melingkupinya dan itu mulai ditanamkan sejak dari lingkungan yang paling kecil. Keluarga dan masyarakatlah yang pertama kali menanamkannya. Ideologi itu sesuatu yang given, meresap tanpa disadari, dan mengatur kita sedemikian rupa. Ideologi di mata kita bersifat natural (tidak dibuat-buat), universal (berlaku di mana-mana), complete (mewakili semua golongan), neutral (tidak berpihak), legitimate (mengklaim kebenaran), common sense (diterima tanpa dipertanyakan karena memang sudah begitu adanya).

Kita semua adalah aktor yang menjalani keseharian berdasarkan peran imajiner yang dibayangkan dan ideologi juga berperan sebagai interpelasi. Interpelasi artinya mekanisme yang membuat orang merasa terpanggil sebagai subyek dengan posisi yang pasti. Ketika kita bertemu dengan seseorang, kita tidak pernah memandang bahwa kita, manusia, bertemu dengan manusia. Tetapi kita sebagai manusia plus peran dan ideologi di belakang kita bertemu dengan orang lain plus peran dan ideologi di belakangnya. Misalnya, kita yang sebagai pegawai kantoran bertemu dengan bos, ideologi berperan sebagai interpelasi, maka dalam pertemuan kita dengan bos itu artinya kita harus menyesuaikan diri, sikap, perilaku, penampilan, dan keputusan. Harus berpakaian rapi, bertutur kata halus, membungkukkan badan, dan sebagainya. Siang harinya kita bertemu dengan Pak Fulan yang itu adalah dosen kita, maka sistem ideologi memainkan perannya. Ketemu harus salaman, menyapa, sopan, salaman cium tangan, berpura-pura menanyakan tugas, memainkan peran pencitraan sebagai mahasiswa yang baik, dan sebagainya.

Ideologi Sebagai Alat Re-Produksi Formasi Kapitalisme

Di ranah produksi, kapitalisme memproduksi keterampilan-keterampilan yang nanti akan berguna untuk bekerja. Seperti baca, tulis, analisa keuangan, ilmu pemasaran, dan sebagainya, agar selanjutnya mendapatkan buruh murah dengan kemampuan yang semakin baik.

Di ranah relasi produksi, kapitalisme mereproduksi ketundukan dan kepatuhan terhadap aturan-aturan kapitalis, etika-etika, cara berperilaku, sangsi-sangsi, denda-denda, potong gaji, kerja lembur, dan sebagainya.

Dari arah elit maupun calon elit, kapitalisme juga mereproduksi kemampuan untuk menundukkan dan menjinakkan pekerja melalui aparatus yang ada di wilayah supra-struktur untuk melanggengkan status quo.

Negara dan Aparatus Sebagai Mesin Kapitalisme

Negara dan aparatusnya bekerja sebagai mesin represi. Ia terbagi menjadi dua. Pertama, Ideological State Apparatus (ISA) yang fungsinya membuat individu untuk suka rela menerima ideologi. Kedua, Repressive State Apparatus (RSA) yang fungsinya memaksa atau perintah langsung agar individu menerima ideologi.

Ideological State Apparatus (ISA) berperan untuk memanipulasi dan mendistorsi kesadaran. Bentuknya antara lain: agama, pendidikan, komunikasi, politik, dan budaya. Di ranah agama, kita diarahkan kepada dalil-dalil fatalisme bukan dalil-dalil emansipatoris, kita didoktrin tentang sabar, rejeki sudah ada yang mengatur, hidup hanya sementara, dan sebagainya. Di ranah pendidikan, kita diarahkan untuk menjadi buruh, baik pekerja kasar maupun kacung berdasi. Kampus-kampus kita menjelma menjadi pabrik yang memproduksi dan mereproduksi mahasiswa-mahasiswa siap eksploitasi. Distorsi kesadaran juga dilakukan melalui komunikasi, lewat tayangan tv, film, iklan-iklan, sampai pada politik dan budaya.

Repressive State Apparatus (RSA) berperan bagi mereka yang tidak mau patuh pada ideologi. Bersifat fisik dan kekerasan. Bentuknya adalah polisi, tentara, pengadilan, birokrasi, dan penjara. Ia berfungsi sebagai ancaman dan hukuman bagi mereka yang tidak tunduk dan patuh kepada ideologi.

Individu-individu yang tidak mau tunduk oleh ISA maka ia akan ditundukkan oleh RSA. Sebaliknya, setelah RSA menundukkan individu, ISA kemudian hadir untuk menciptakan dan membangun kesadaran palsu secara berangsur-angsur lalu akhirnya mengarahkan ketertundukan pada ideologi kapitalisme. Itu terjadi berulang-ulang, kontinu, masif, dan dialami oleh setiap individu. Orang-orang yang mengendarai motor tidak memakai helm akan ditilang polisi sebagai RSA, kemudian ISA hadir sebagai aparatus yang menyadarkan bahwa orang-orang yang mengendarai motor harus memakai helm agar kepalanya aman. Kalau kemudian besoknya ia tetap tidak memakai helm, ia akan ditilang lagi. Kemudian ISA lewat tayangan tv, iklan, film, hadir untuk melakukan tugasnya lagi. Begitu seterusnya.

Sebenarnya ketika negara mengeluarkan undang-undang tentang kewajiban memakai helm, maka produsen-produsen helmlah yang semakin diuntungkan, buruh-buruh pabriknya tetap tereksploitasi dan teralienasi sampai mereka di-PHK lalu musnah atau setelah PHK ia berjuang dan menjelma sukses menjadi kapitalis baru. 

Tulisan ini mungkin tidak mengubah apapun, tidak mampu meruntuhkan sistem kapitalisme yang membunuh manusia dan kemanusiaan itu, dan menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial, tetapi tulisan ini setidaknya merupakan suatu langkah penyadaran terhadap kaum-kaum bawah dan perlawanan terhadap eksploitasi, penindasan, kesewenang-wenangan, dan dehumanisasi yang adalah LIMBAH dari kapitalisme. Maka bersediakah kalian untuk menjadi subyek yang sadar-menyadarkan dan menjadi agen yang melakukan perlawanan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMPARODIKAN PENAMPAKAN MANUSIA

MEMBUMIKAN FALSAFAH PANCASILA MEMBANGUN PARADIGMA MULTIKULTURAL